Irman Ajak Berpolitik dengan Hati, Petik Keteladanan Natsir-Soekarno

Irman Ajak Berpolitik dengan Hati, Petik Keteladanan Natsir-Soekarno

Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) meluncurkan sekaligus membedah dua buku sekaligus secara virtual, Jumat (18/12/2020). Buku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar Shofwan itu, berjudul “Islam Sebagai Dasar Negara: Polemik Antara Mohammad Natsir versus Soekarno” dan “68 Tahun Melukis di Atas Awan, Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim”.

Ketua DPD RI 2009-2016, Irman Gusman yang diundang sebagai pembicara dalam kegiatan itu mengungkapkan bahwa Shofwan Karim merupakan sahabat dekat yang sudah dikenalnya lebih dari 25 tahun.

“Bahkan persahabatan saya dengan Buya Shofwan Karim ini boleh dibilang sangat spesial, sepert ungkapan pepatah Inggris, A friend in need is a friend indeed. Sahabat yang datang ketika kita membutuhkan pertolongan adalah sahabat sejati,” ungkap Irman.

Sahabat di kala senang maupun susah. Ketika Irman berada dalam masalah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)  Sukamiskin Bandung, Shofwan berulang kali mengunjunginya. Bahkan Shofwan juga orang yang berdiri di depan pintu pada malam 26 September 2019, ketika Irman melangkah keluar dari pintu utama Lapas Sukamiskin untuk pulang ke rumah.

Menurut Irman, Shofwan Karim merupakan sosok yang kaya pengalaman dan sepak terjangnya sudah tingkat nasional. Bangsa ini butuh sumbangsih pemikirannya.

“Karena saya cukup lama mengenal Buya Shofwan dari dekat, maka secara jujur dan obyektif saya mau katakan bahwa Sumatera Barat sudah terlalu sempit untuk Buya Shofwan Karim. Sudah saatnya Buya Shofwan bergeser ke Jakarta dan berkiprah dari sana mengingat pengalaman, kematangan, kepemimpinan dan kearifan beliau yang dibutuhkan di tingkat nasional,” jelas Irman.

Usia Shofwan yang kini menginjak 68 tahun menurut Irman belumlah tua, mengutip standard terbaru yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Justru usia 68 tahun itu adalah usia terbang; karena itulah Buya Shofwan Melukis di Atas Awan,” tambahnya.

Cover buku 68 Tahun Melukis di Atas Awan, Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim.

Irman menegaskan bahwa hubungan persahabatan itu abadi, tanpa syarat. “Friendship is unconditionally eternal. Persahabatan itu abadi tanpa syarat,” kata tokoh nasional asal Sumbar ini.

Pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tapi persahabatan tetap abadi. Hal itu juga tergambar dan teladan yang bisa dipetik dalam persahabatan Natsir dan Bung Karno. Mereka selalu berseberangan tetapi tetap bersahabat.

Dijelaskannya bahwa Soekarno sebagai seorang ideolog dan pemikir politik berpandangan bahwa agama harus dipisahkan dari urusan negara. Sementara Natsir sebagai seorang ideolog reformis muslim dan arsitek “negara Islam moderat” berpandangan bahwa Islam sebagai agama peradaban yang membimbing manusia memasuki alam modern harus disatukan dengan negara.

“Bung Karno tidak mau membawa agama di dalam perjuangannya. Ia menganggap cukup dengan nasionalisme saja, karena kalau membawa-bawa agama maka bangsa ini akan bercerai-berai. Tapi Natsir berpendapat bahwa untuk mencapai kemerdekaan, tidak cukup hanya dengan nasionalisme. Dorongan agama Islam, jauh lebih kuat. Mereka berseberangan secara tajam seperti itu,” jelas Irman.

Meski demikian, ketika Soekarno ditangkap, diadili, dan dipenjarakan di Sukamiskin, yang pertama kali menjenguk Bung Karno di penjara itu adalah bukan orang-orang PNI pendukung Bung Karno, melainkan kelompok Natsir yang justru tidak sepaham dengan Bung Karno.

“Ini pelajaran keteladanan yang sangat berharga buat bangsa kita agar bisa berpolitik dengan hati secara matang dan bijaksana. Sebab, di zaman sekarang, terlalu banyak pemimpin tapi terlalu sedikit kepemimpinan. Terlalu banyak politisi, tapi terlalu sedikit negarawan. Terlalu banyak idola, tapi terlalu sedikit keteladanan. Terlalu banyak pembawa masalah, tapi terlalu sedikit pembawa solusi. Terlalu banyak menggunakan otak dan otot, tapi terlalu sedikit bahkan sangat jarang kita menggunakan hati,” beber suami dari Liestyana Rizal Gusman itu

Akibat dari kondisi tersebut, Irman mengibaratkan seperti hidup di bawah SUTET, Saluran Udara Tagangan Ekstra Tinggi. Semua orang tegang. Saling curiga dan berprasangka buruk. Saling hujat dan caci-maki. Berbeda pendapat dianggap sebagai permusuhan dan peperangan.

“Kenapa bisa terjadi begini? Karena kita tidak belajar dari sejarah. Coba tengok ke belakang. Meskipun Natsir dan Soekarno berseberangan secara pemikiran dan sikap politik, tapi terdapat kesamaan keyakinan di antara mereka dalam hal demokrasi.

Natsir menyatakan bahwa Islam adalah ajaran yang paling demokratis. Soekarno pun berkeyakinan bahwa umat Islam dapat memperjuangkan aspirasinya secara optimal dalam suatu negara yang demokratis,” tambah Irman.

Cover buku “Islam sebagai Dasar Negara, Polemik Antara Mohammad Natsir versus Soekarno”.

Hal lainnya yang dinilai Irman luar biasa dari hubungan dua tokoh besar ini, adalah bahwa Soekarno mengagumi Natsir sebagai sosok pendidik generasi muda Islam yang karya tulisnya, sebuah buku berjudul “Komt Tot Het Gebed” (artinya Marilah Shalat), itu dikagumi oleh Soekarno. Sebaliknya, meskipun berseberangan dengan Soekarno, tapi Natsir pernah berkata, “Kami tidak pernah bentrok. Perbedaan ide memang menyebabkan kami berpisah, tapi hubungan kami tetap dekat.”

Dari polemik dua tokoh bangsa tersebut, Irman juga memetik pelajaran lainnya. Yakni, meskipun mereka berdebat tentang hubungan agama dan negara dan tentang dasar negara, tapi mereka akhirnya bersepakat untuk tidak menghapus Pancasila sebagai dasar negara; mereka melestarikannya meskipun Natsir mendirikan Masyumi yang menjadi partai Islam terkuat dalam Pemilu 1955, dengan menguasai 20,9 persen suara dan menang di 10 dari 15 daerah pemilihan.

“Sebab tujuan perjuangan Natsir sebetulnya adalah agar nilai-nilai keislaman tidak lantas dilunturkan oleh sekularisme yang sedang merembes ke dalam berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah sebabnya maka Natsir sangat peduli dan berperan aktif dalam pendidikan keagamaan bagi generasi muda,” tukas Irman.

Dari sejarah itu perlu dicatat bahwa apa yang diperjuangkan Natsir itu, menurut Irman masih relevan sampai hari ini, di mana sekularisme yang semakin kental mengancam dan mengikis keberagamaan kita, khususnya di kalangan generasi muda.

“Dalam hal ini perjuangan Natsir untuk memanifestasikan nilai-nilai ajaran Islam itu perlu kita lanjutkan, sama seperti melanjutkan perjuangan Soekarno dalam melestarikan Pancasila,” tegasnya.

Catatan lain tentang perjuangan Natsir adalah bahwa keberagamaan kita perlu tampak dalam realitas sehari-hari, bukan sekadar identitas belaka. Bahkan dalam mengamalkan Pancasila, bagaimana sila Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadilan Sosial, misalnya, bisa diterjemahkan ke dalam realitas kehidupan sehari-hari.

“Jadi, kalau saya mencoba merekonsiliasikan pemikiran Natsir dan pemikiran Soekarno, dua kutub yang bertolak belakang itu, maka yang mau saya katakan adalah, kita harus bisa berpancasila sereligius mungkin dan beragama sepancasilais mungkin. Artinya,  mengamalkan agama di negara yang berdasarkan Pancasila dan mengamalkan Pancasila di negara yang penduduknya menjunjung tinggi ajaran agama,” tuturnya.

Sebagai anak bangsa, kata Irman tugas kita bukan mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara, atau memperjuangkan Islam sebagai dasar negara.

“Hal itu sudah final. Sebab Pancasila sudah mewakili nilai-nilai luhur dari semua agama di negeri ini bahkan mewakili jatidiri bangsa kita. Tugas kita adalah melakukan introspeksi, sudah sampai sejauh mana kita mengamalkan lima sila itu di dalam realitas kehidupan kita sebagai bangsa, kemudian melakukan koreksi dengan menggunakan ajaran agama dan falsafah Pancasila sebagai pedoman,” imbaunya.

Dalam peluncuran dan bedah buku yang dimulai pengantar dari editor buku Efri Yoni Baikoeni, SS, MA, itu juga hadir pembicara lain, di antaranya Guru Besar UIN Hidayatullah Prof Azyumardi Azra, Rektor Universitas Yarsi Prof Fasli Jalal, Ulama Sumbar Masoed Abidin, para dosen dan sivitas akademika UMSB.(esg)


https://padek.jawapos.com/buku/18/12/2020/irman-ajak-berpolitik-dengan-hati-petik-keteladanan-natsir-soekarno/



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shofwan Karim, Pembicara dalam Pertemuan MDNG se Dunia

Takziyah Sir Prof Dr H Azyumardi Azra, MA., M Phil., CBE Tokoh Cendekiawan dan Akademisi Muslim Dunia